Sejak pertama menyentuh buku ini, saya sudah menyimpan ekspektasi tersendiri, karena sudah terpapar informasi dari berbagai media bahwa buku ini sangat bagus. Ternyata, sesudah membacanya, buku ini masih melebihi ekspektasi yang saya punya. Yang pertama saya pikirkan ketika mengulas buku ini adalah, ini adalah buku di dalam buku dengan berbagai macam lapisan misteri yang perlahan terkuak sedikit demi sedikit.
Di dalam buku ini, kita akan diajak mengarungi sejarah kelam Indonesia dengan dua generasi berbeda, pertama melalui sudut pandang seorang anak perempuan yang bernama Karla. Karla adalah seorang anak keturunan Tionghoa. Bapak, ibu, dan kakak laki-lakinya berkulit putih, namun hanya dia sendiri yang berkulit sawo matang. Wajahnya pun lebih mirip wong Jowo dibandingkan gadis keturunan Tionghoa. Oleh sebab itu, ia selalu merasa identitasnya dipertanyakan.
Sejak kecil, Karla selalu merasa bahwa ibunya, Lydia, membencinya, terlihat dari bagaimana sang ibunda memperlakukan Karla berbeda dari anak pertamanya. Dia juga merasa ibunya selalu apatis terhadapnya. Bahkan, Lydia selalu menyewakan baju kebaya lusuh yang sama dari tahun ke tahun untuk perayaan Hari Kartini, itupun karena Karla harus meraung dan menangis agar bisa ikut perayaan spesial tersebut. Karla harus menerima cemoohan dari teman-temannya mentah-mentah. Di bagian ini, penulis berhasil membuat kita bersimpati terhadap tokoh Karla, bahkan ikut merasakan rasa kesal terhadap Lydia. Rasa benci terhadap ibunya sendiri mulai tumbuh dalam diri Karla, membuatnya menjauh dari keluarganya sendiri, dari etnis Tionghoa-nya sendiri, hingga ia bersikap apatis terhadap kekerasan yang terjadi pada etnisnya di tahun 1998.
Kisah Karla berhenti sejenak ketika ibunya, yang ia cap sebagai monster, akhirnya meninggal dunia. Ia mencuri autobiografi mendiang ibunya dari seorang feminis yang meneliti tentang kehidupan ibunya. Di sinilah sudut pandang kedua, dari sosok Lydia, dimulai.
Lydia, yang ternyata bernama asli Djing Fei, terpaksa mengganti identitasnya setelah menjadi tahanan politik tahun 1965. Djing Fei menjadi tahanan politik selama empat tahun demi melindungi adik iparnya yang dekat dengan anggota Gerwani. Dari kisah Djing Fei selama menjadi tahanan politik, kita bisa melihat bagaimana berbagai macam siksaan yang mereka alami dianggap wajar dan sepatutnya, hanya karena mereka dianggap memiliki koneksi dengan kelompok komunis meskipun tidak ada bukti yang melandasinya.
Setelah keluar dari tahanan pun, Djing Fei melihat bahwa di dunia luar, para perempuan tetap harus menanggung siksaan pada tubuhnya selama bertahun-tahun lamanya. Ia melihat bagaimana perempuan-perempuan itu tunduk kepada sistem yang sebenarnya merugikan mereka, namun dibalut oleh berbagai eufemisme yang membuat seolah hal itu adalah wajar.
“Inilah penjajahan yang sempurna—ketika sang budak jadi bahagia sebagai budak, dan bahkan memuja dan membela mati-matian sang tuan dengan jiwa dan raga mereka.”
Saya sangat menyukai bagaimana berbagai macam narasi di awal cerita dari sudut pandang Karla dipatahkan oleh autobiografi Djing Fei di bagian kedua buku ini. Saya juga sangat suka bagaimana penulis menghadirkan narasi ini, dibalut oleh alur cerita intelektual, menggunakan sumber data dan penelitian, hingga pendekatan yang lebih personal seperti buku harian.
Sebenarnya, saya sendiri merasa kurang layak untuk menilai buku ini. Namun, jika harus diberi angka dari 1-10, saya akan memberi nilai 10, tanpa dilebih-lebihkan. Saya merekomendasikan teman-teman lain untuk membacanya, terutama bagi mereka yang membutuhkan bacaan tentang sejarah yang dibalut oleh gaya penulisan modern dan merakyat. (ANS)
Judul: Dari Dalam Kubur
Pengarang: Soe Tjen Marching
Penerbit: Marjin Kiri
Kategori: Novel sejarah
Tahun terbit: 2020
Jumlah halaman: 509
Nomor ISBN: 978-602-0788-03-6
Diulas oleh: Annisa Nur S.







Tinggalkan komentar
Anda harus masuk untuk berkomentar.